Penulis:
HIKMAYANTI

LUWU TIMUR β€” Sampah rumah tangga sering kali hanya berakhir di tempat pembuangan tanpa pernah diketahui jumlah maupun jenisnya. Padahal, data tersebut dapat menjadi dasar penting dalam menyusun kebijakan pengelolaan lingkungan di tingkat desa.

Berangkat dari kondisi itu, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Gelombang 116 Universitas Hasanuddin (Unhas), Hikmayanti, menghadirkan program SIGAP Sampah (Sistem Informasi Gerakan Pilah Sampah) di Desa Pasi-Pasi, Kecamatan Malili, Kabupaten Luwu Timur.

Program yang digagas mahasiswa Program Studi Matematika tersebut tidak hanya mengajak masyarakat memilah sampah, tetapi juga membangun sistem pendataan dan monitoring yang memungkinkan kondisi sampah rumah tangga dipetakan secara lebih terukur.

Melalui program ini, sampah tidak lagi dipandang semata sebagai persoalan kebersihan, melainkan sebagai data yang dapat membantu pemerintah desa memahami kondisi lingkungan masyarakat.

Dari Rumah Warga Menjadi Data Desa

Pelaksanaan SIGAP Sampah berlangsung secara bertahap sejak Juli hingga Agustus 2026.

Kegiatan diawali dengan observasi kondisi desa, kemudian dilanjutkan dengan pendataan jenis sampah rumah tangga yang dihasilkan masyarakat.

Data yang terkumpul selanjutnya diolah menggunakan Microsoft Excel untuk menghasilkan informasi yang dapat digunakan dalam proses monitoring dan evaluasi pengelolaan sampah di tingkat desa.

β€œMelalui SIGAP Sampah, saya ingin pengelolaan sampah tidak hanya berhenti pada kegiatan memilah, tetapi juga memiliki data yang dapat dipantau. Dengan adanya data tersebut, diharapkan kondisi sampah di masyarakat dapat diketahui dengan lebih jelas dan menjadi bahan pendukung untuk pengelolaan sampah di desa,” ujar Hikmayanti.

Menurutnya, keberadaan data akan membantu pemerintah desa melihat kondisi nyata di lapangan dan menjadi dasar dalam merancang langkah-langkah pengelolaan sampah yang lebih efektif.

Hadirkan Dashboard dan Buku Monitoring

Salah satu inovasi yang dihasilkan dari program tersebut adalah Dashboard SIGAP Sampah.

Dashboard ini dirancang sebagai media visualisasi data yang menyajikan hasil monitoring kondisi sampah rumah tangga dalam bentuk yang lebih sederhana dan mudah dipahami.

Melalui dashboard tersebut, informasi yang sebelumnya tersimpan dalam lembar pendataan dapat ditampilkan secara lebih informatif sehingga memudahkan proses pemantauan.

Selain itu, mahasiswa juga menyusun Buku Monitoring SIGAP Sampah yang dapat digunakan sebagai sarana pencatatan berkelanjutan oleh masyarakat maupun pemerintah desa.

Keberadaan buku tersebut memungkinkan proses pendataan tidak berhenti setelah program KKN berakhir.

Edukasi Lewat Papan Informasi

Tidak hanya berfokus pada pengumpulan data, SIGAP Sampah juga mengedepankan aspek edukasi masyarakat.

Untuk mendukung tujuan tersebut, mahasiswa menghadirkan Papan Edukasi SIGAP Sampah yang memuat informasi mengenai jenis-jenis sampah serta waktu yang dibutuhkan masing-masing sampah untuk terurai di lingkungan.

Informasi tersebut diharapkan dapat membantu masyarakat memahami dampak sampah terhadap lingkungan sekaligus mendorong perubahan perilaku dalam pengelolaan sampah rumah tangga.

Dengan adanya papan edukasi yang ditempatkan di lokasi yang mudah diakses, masyarakat dapat memperoleh informasi secara langsung tanpa harus mengikuti kegiatan sosialisasi formal.

Langkah Awal Pengelolaan Sampah Berkelanjutan

Program SIGAP Sampah menghasilkan tiga luaran utama yang saling terhubung, yakni Buku Monitoring SIGAP Sampah, Dashboard SIGAP Sampah, dan Papan Edukasi SIGAP Sampah.

Ketiganya dirancang sebagai satu kesatuan yang mendukung proses pengelolaan sampah mulai dari pencatatan data, pengolahan informasi, pemantauan kondisi lapangan hingga edukasi masyarakat.

Melalui program ini, mahasiswa KKN-T Gelombang 116 Unhas berharap Desa Pasi-Pasi memiliki dasar informasi yang lebih baik dalam mengelola persoalan sampah.

Lebih jauh, SIGAP Sampah diharapkan menjadi langkah awal menuju sistem pengelolaan sampah yang lebih terarah, berbasis data, dan berkelanjutan.

Dari lingkungan rumah tangga, gerakan memilah sampah diharapkan tumbuh menjadi kebiasaan masyarakat yang pada akhirnya mampu mendukung terciptanya lingkungan yang lebih bersih dan sehat di Desa Pasi-Pasi, Kecamatan Malili, Kabupaten Luwu Timur.(*)