Maros, Katasulsel.com – Letaknya hanya selangkah dari Kota Makassar membuat Kabupaten Maros menjadi salah satu daerah paling strategis di Sulawesi Selatan. Kawasan industri berkembang, akses ekonomi terbuka, pembangunan terus bergerak.

Namun, ada fakta lain yang muncul dari data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS). Di balik wajah Maros yang terus tumbuh, masih ada puluhan ribu warga yang harus berjuang menghadapi persoalan ekonomi.

BPS mencatat, sebanyak 32,67 ribu penduduk Kabupaten Maros masuk kategori miskin pada tahun 2025.

Angka tersebut setara dengan 8,90 persen dari total penduduk Maros berdasarkan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2025.

Data ini menjadi sorotan karena Maros selama ini dikenal sebagai daerah dengan banyak peluang ekonomi. Mulai dari kawasan industri, perdagangan, pertanian, hingga sektor pariwisata.

BPS juga mencatat, garis kemiskinan Kabupaten Maros pada Maret 2025 mencapai Rp560.172 per kapita per bulan.

Artinya, masyarakat dengan rata-rata pengeluaran di bawah angka tersebut masuk dalam kelompok penduduk miskin.

Angka kemiskinan Maros bahkan berada di atas rata-rata Provinsi Sulawesi Selatan yang tercatat sebesar 7,60 persen.

Padahal, Maros memiliki posisi yang sangat strategis. Sebagai daerah penyangga ibu kota provinsi, Maros menjadi jalur utama pergerakan ekonomi Sulawesi Selatan. Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, kawasan industri, hingga jalur distribusi nasional berada di wilayah ini.

Namun, pertumbuhan ekonomi ternyata belum sepenuhnya dirasakan merata oleh seluruh masyarakat.

Sebagian warga masih menggantungkan hidup dari sektor pertanian, usaha kecil, pekerja informal, dan sektor ekonomi yang rentan terhadap perubahan harga maupun kondisi pasar.

Tantangan terbesar ke depan adalah bagaimana pertumbuhan investasi dan pembangunan mampu menciptakan lebih banyak lapangan kerja serta meningkatkan pendapatan masyarakat lokal.

Jika dibandingkan dengan daerah lain di Sulawesi Selatan, tingkat kemiskinan Maros masih lebih tinggi dibanding beberapa wilayah seperti Sidenreng Rappang yang tercatat 4,91 persen, Wajo 5,86 persen, dan Kota Parepare 4,44 persen.

Namun, Maros masih berada di bawah sejumlah daerah dengan angka kemiskinan lebih tinggi seperti Pangkep 11,60 persen, Jeneponto 11,42 persen, dan Enrekang 10,73 persen.

Data BPS ini menjadi alarm bahwa kemajuan daerah tidak cukup hanya dilihat dari banyaknya pembangunan dan investasi yang masuk.

Ukuran keberhasilan juga terlihat dari seberapa besar masyarakat mampu menikmati pertumbuhan ekonomi tersebut.

Sebab, di balik gemerlap perkembangan Maros, masih ada 32 ribu lebih warga yang menunggu kesempatan, lapangan kerja, dan peluang ekonomi agar bisa benar-benar keluar dari jerat kemiskinan.

Topik Terkait:
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Wajo Hari Ini .
Temukan berita terbaru dan terkini seputar Wajo hanya di Katasulsel.com

👉 Lihat semua berita Wajo terbaru di sini

Topik: Maros