Namun, menurut Andi Faisal, keputusan tersebut tidak semata-mata mempertimbangkan aspek estetika kawasan.

Ada tujuan ekonomi yang ingin didorong pemerintah, khususnya membuka ruang usaha bagi masyarakat lokal.

“Kami berharap dengan hadirnya coffee shop ini bisa membuka lapangan kerja baru bagi pemuda lokal dan menyediakan fasilitas bersantai yang representatif bagi pengunjung,” ujarnya.

Dengan konsep tersebut, kawasan Anjungan Mataallo diharapkan tidak hanya menjadi tempat wisata, tetapi juga ruang interaksi ekonomi masyarakat.

Kehadiran usaha kuliner dan tempat bersantai dinilai dapat melengkapi aktivitas wisata sekaligus memberi peluang bagi pelaku UMKM di sekitar kawasan.

Di sisi lain, pemerintah menyadari bahwa perubahan fungsi bangunan tersebut dapat menimbulkan pertanyaan, terutama karena sebelumnya dikenal sebagai mushala.

Andi Faisal memastikan nilai-nilai religius tetap menjadi perhatian dalam pengelolaan kawasan.

Menurutnya, operasional coffee shop akan tetap menghormati waktu salat.

“Kami pastikan selalu menghormati waktu salat, misalnya dengan mengecilkan volume musik saat azan berkumandang,” katanya.

Ia juga membuka ruang komunikasi apabila di kemudian hari terdapat kebutuhan untuk mengembalikan area tersebut sebagai fasilitas ibadah.

“Kalau di masa depan area ini akan difungsikan kembali sebagai sarana ibadah, kami tetap membuka ruang komunikasi,” tambahnya.

Sementara itu, sejumlah pelaku UMKM yang beraktivitas di sekitar Anjungan Mataallo justru memberikan pandangan positif terhadap penataan tersebut.

Mereka menilai kondisi bangunan sebelum ditata sudah cukup lama terbengkalai dan justru menjadi sumber persoalan.

Topik Terkait:
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Enrekang Hari Ini .
Temukan berita terbaru dan terkini seputar Enrekang hanya di Katasulsel.com

👉 Lihat semua berita Enrekang terbaru di sini