Oleh: Dinda Fatimah Zahra

Perempuan sekarang suka gincu
yang nyaris tidak kelihatan.
Nude, katanya.
Warna dibuat sedekat mungkin dengan bibir,
dipulas tipis-tipis sampai setelah selesai berdandan
masih ada yang bertanya,
β€œPakai lipstik?”

Mereka ingin bibir
yang tetap tampak seperti bibir,
hanya sedikit lebih beradab
di depan kamera.

Ibu-ibu punya selera lain.
Merahnya berani.
Sekali pulas, bibir mengambil giliran bicara:
merah cabai, merah menyala,
merah yang tidak membutuhkan caption
untuk mengabarkan bahwa ia telah sampai.

Aku memilih merah bata.

Kubeli dua puluh ribu di Shopee.
Bukan waterproof,
bukan yang katanya tahan makan,
tahan minum,
tahan ciuman.

Aku tidak membutuhkan gincu
yang sekuat itu.

Cukup menempel sebelum sarapan,
lalu rela berkurang
setelah makan siang.

Warnanya seperti tembok lama
yang berkali-kali dicat ulang,
tetapi warna pertama
selalu menemukan celah
untuk muncul dari retaknya.

Merah itu juga begitu.

Di bibirku ia tidak pernah benar-benar tinggal.
Sedikit demi sedikit luruh,
menipis di pinggir,
lalu berpindah ke bibir gelas
setelah beberapa teguk kopi.

Aku mengusapnya dengan tisu.

Tisu menjadi merah bata.

Kuperhatikan sebentar
seperti melihat sesuatu
yang baru saja pergi
tetapi masih meninggalkan bekas.

Lalu kubuka lagi tutupnya.

Kupulas lagi.

Dua puluh ribu rupiahβ€”
berkali-kali hilang,
berkali-kali kembali
menjadi warna.

Tanjung Priok, 17 September 2026

K
Katasulsel.com
Ikuti kami di media sosial
Berita terbaru Katasulsel juga hadir di Instagram dan TikTok.
Follow Katasulsel untuk update berita terbaru