Oleh: Dinda Fatimah Zahra

Karpet hijau menjadi ruang sidang, lampu lima watt menjadi saksi. Malam ini aku membuka perkara atas diriku sendiri: terlalu banyak hari kulewatkan dengan kata nanti, terlalu banyak waktu kubuang hanya untuk menunda lagi.

Masa lalu datang sebagai jaksa, membacakan tuntutan tanpa jeda. Kipas angin menghamburkan debu dari berkas perkara, sementara dompet kosong diletakkan di meja sebagai barang bukti.

Aku mencari pembela, tetapi tak ada. Alasan-alasan yang biasa menyelamatkanku pun telah kedaluwarsa. Malam itu, tak ada satu pun dalih laku sebagai pembelaan.

Pukul tiga, hakim mengetuk meja. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Palu jatuh.

Bersalah.

Vonisnya sederhana: insomnia sampai pagi.

Besok aku bebas.
Lalu boleh mengulanginya lagi.

Tanjung Priok, 15 September 2026