Maros, Katasulsel.com – Bandara biasanya identik dengan pesawat yang datang dan pergi. Namun pemandangan berbeda terjadi di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Kabupaten Maros.

Bukan lalu-lalang penumpang yang menjadi sorotan, melainkan berkumpulnya akademisi, peneliti, dan pegiat inovasi dari berbagai daerah dalam ajang Sultan Hasanuddin Forum on Research and Innovation.

Forum yang digelar pada Rabu (29/7/2026) itu menjadi ruang pertemuan gagasan, riset, dan inovasi yang diarahkan untuk menjawab berbagai tantangan pembangunan nasional.

Pemilihan bandara sebagai lokasi kegiatan bukan tanpa alasan. Tempat ini dianggap simbol konektivitas, pertemuan berbagai wilayah, sekaligus representasi kolaborasi lintas sektor yang menjadi kunci kemajuan riset Indonesia.

Forum tersebut menghadirkan berbagai unsur akademisi, praktisi, lembaga pendidikan, hingga organisasi penggerak mobilitas akademik internasional.

Salah satu yang mendapat perhatian adalah keterlibatan aktif Dewan Pendidikan Kabupaten Maros dan sejumlah perguruan tinggi daerah yang menunjukkan bahwa pengembangan riset nasional tidak lagi terpusat di kota-kota besar.

Komite Saintifik forum, Ismail Suardi Wekke, menilai kegiatan ini menjadi tanda semakin kuatnya peran kawasan timur Indonesia dalam percaturan riset nasional.

Menurutnya, forum tersebut berhasil membuka akses yang lebih luas bagi peneliti lokal untuk terhubung dengan jaringan akademik internasional.

β€œForum ini melampaui ekspektasi dalam membangun konektivitas global bagi para peneliti, sekaligus membuka akses lebih luas terhadap jejaring akademik internasional,” ujarnya.

Ia menilai, tantangan dunia akademik saat ini bukan lagi sekadar menghasilkan penelitian, tetapi memastikan hasil riset dapat diterapkan dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat.

Karena itu, hilirisasi riset menjadi kata kunci yang terus didorong dalam berbagai diskusi forum.

Dalam ekosistem riset modern, keberhasilan sebuah penelitian tidak lagi diukur dari banyaknya publikasi semata, melainkan dari sejauh mana inovasi tersebut mampu menjawab kebutuhan masyarakat, dunia usaha, dan pembangunan daerah.

Forum ini juga menyoroti pentingnya penguatan tata kelola perguruan tinggi, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta kolaborasi lintas sektor agar hasil penelitian tidak berhenti di ruang seminar atau jurnal ilmiah.

Para peserta berharap pertemuan tersebut menjadi titik awal lahirnya berbagai kolaborasi strategis yang dapat mempercepat pengembangan inovasi nasional.

Dengan semangat kolaborasi dan keterbukaan, Sultan Hasanuddin Forum on Research and Innovation diharapkan menjadi salah satu motor penggerak lahirnya riset-riset berdampak yang mampu mendukung visi besar Indonesia Emas 2045.

Sebab di era persaingan global saat ini, kekuatan sebuah bangsa tidak hanya ditentukan oleh sumber daya alam, tetapi juga oleh kemampuan mengubah pengetahuan menjadi inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat luas. (*)