Sejumlah dokumen penting ikut dibicarakan, termasuk persetujuan daerah dan berita acara kesepakatan cakupan wilayah Provinsi Luwu Raya.
Bupati Luwu Utara, Andi Abdullah Rahim, menyambut baik langkah komunikasi tersebut. Ia menekankan bahwa perjuangan panjang ini membutuhkan kesatuan sikap dari seluruh elemen masyarakat.
“Ini membutuhkan kebersamaan semua pihak agar setiap tahapan bisa berjalan sesuai aturan,” ujarnya.
Di luar ruang pertemuan, dukungan terhadap gagasan ini juga datang dari berbagai kalangan akademisi dan tokoh masyarakat yang hadir. Mereka menilai, Luwu Raya telah lama memiliki identitas sosial dan kultural yang kuat untuk berdiri sebagai provinsi tersendiri.
Sejumlah nama turut hadir dalam forum tersebut, mulai dari tokoh pendidikan, akademisi, hingga pengurus KKLR dan BPP DOB, yang selama ini konsisten mengawal wacana pemekaran.
Namun di balik diskusi formal itu, ada satu hal yang terasa sama dari waktu ke waktu: perjuangan Luwu Raya belum selesai.
Dan seperti menjadi penutup yang sederhana namun bermakna, pertemuan itu diakhiri dengan santap malam bersama. Kapurung, kuliner khas Tana Luwu, tersaji di meja makan—menjadi simbol kebersamaan dari sebuah perjuangan panjang yang belum mencapai garis akhir.(*)
