Gowa, katasulsel.com — Suasana di lingkungan Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) Makassar, Rabu (10/06/2026), sempat berubah “mencekam” dalam hitungan menit. Asap buatan mengepul dari salah satu titik bangunan, alarm darurat berbunyi, dan sejumlah pegawai terlihat bergegas keluar gedung dengan ekspresi panik.

Namun beberapa menit kemudian, situasi itu perlahan terbaca berbeda. Tidak ada korban. Tidak ada bangunan terbakar. Semua yang terjadi ternyata adalah bagian dari simulasi besar penanganan kebakaran dan pertolongan pertama.

Kegiatan tersebut merupakan Pelatihan Pencegahan dan Penanggulangan Kebakaran serta Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K) yang digelar di lingkungan kantor Rudenim Makassar, dengan melibatkan sekitar 50 peserta yang terdiri dari pejabat, staf, hingga anggota Dharma Wanita Persatuan (DWP).

Dalam simulasi yang dibuat menyerupai kondisi nyata itu, para peserta “dipaksa” menghadapi skenario darurat seolah-olah benar terjadi kebakaran di kantor. Kepanikan awal terlihat jelas, namun berubah menjadi respons terarah setelah komando evakuasi diberikan.

Instruktur dari Dinas Pemadam Kebakaran Kabupaten Gowa menjadi pengendali utama jalannya simulasi. Mereka mengarahkan seluruh peserta untuk mengevakuasi diri menuju titik kumpul yang telah ditentukan, sambil memastikan alur penyelamatan berjalan sesuai prosedur.

Di sesi berikutnya, suasana beralih ke area terbuka. Api simulasi dari drum pembakaran disiapkan untuk latihan pemadaman langsung. Satu per satu peserta mencoba menggunakan Alat Pemadam Api Ringan (APAR), mulai dari jenis powder hingga CO₂, dengan pengawasan ketat instruktur.

Di momen inilah terlihat perubahan paling nyata: dari yang sempat ragu, menjadi lebih percaya diri dalam menghadapi situasi darurat.

Tak hanya pemadaman api, peserta juga dilatih teknik dasar Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K), termasuk Resusitasi Jantung Paru (RJP/CPR) dan cara mengevakuasi korban dari area berbahaya. Skenario dibuat sedetail mungkin, termasuk simulasi korban pingsan yang harus segera ditangani.

Instruktur juga menjelaskan konsep dasar “Segitiga Api” serta klasifikasi kebakaran, agar peserta memahami bahwa penanganan api tidak bisa dilakukan secara sembarangan, melainkan harus sesuai jenis dan sumbernya.

Kepala pelaksana kegiatan menyebut simulasi ini bukan sekadar latihan rutin, tetapi upaya membangun kesadaran bahwa keadaan darurat bisa terjadi kapan saja dan di mana saja.

“Tujuannya agar semua pegawai tidak hanya tahu teori, tapi juga siap secara mental dan tindakan jika benar-benar menghadapi situasi darurat,” demikian penjelasan dalam kegiatan tersebut.

Di akhir sesi, seluruh rangkaian simulasi dinyatakan berjalan lancar. Tidak ada insiden nyata, namun seluruh peserta “merasakan” bagaimana rasanya berada dalam situasi krisis—mulai dari kepanikan awal hingga proses evakuasi yang terkendali.

Kegiatan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa kesiapsiagaan bukan hanya soal alat, tetapi juga soal refleks, koordinasi, dan ketenangan dalam menghadapi situasi yang tidak terduga. (*)