“Baru ji. Baru kurang lebih dua minggu, tiga minggu,” ujarnya.

Dampaknya dirasakan langsung masyarakat.

Warga tidak lagi cukup datang ke satu SPBU. Sebagian harus berkeliling mencari lokasi yang masih memiliki stok BBM.

Sunarti, salah seorang warga, mengaku mengalami sendiri kesulitan tersebut.

Ia mengatakan telah mencari BBM mulai dari penjual bensin eceran hingga SPBU. Namun, stok yang dicari juga tidak mudah ditemukan.

“Mulai dari penjual bensin eceran sampai ke SPBU, stok Pertalite dan Pertamax kosong. Saya sampai kesulitan mencari BBM,” keluh Sunarti.

Persoalan tersebut bahkan berdampak pada aktivitas keluarganya.

Sunarti mengatakan sepeda motornya kehabisan BBM ketika hendak digunakan untuk mengantar anaknya ke sekolah.

Akibatnya, anaknya terpaksa tidak masuk sekolah.

“Terpaksa anak saya tidak masuk mi sekolah, bagaimana tidak ini motor sudah tidak bisa menyala, habis bensinnya,” tuturnya.

Di sisi lain, kepolisian menemukan adanya peningkatan daya beli masyarakat di sejumlah SPBU yang dipantau.

Aipda Nur Reski A. Yusuf mengatakan Unit Tipidter Satreskrim Polresta Gowa melakukan pemantauan untuk mengetahui kondisi distribusi BBM di lapangan.

“Jadi kami dari Unit Tipidter Polresta Gowa melakukan pemantauan di sejumlah SPBU di Kabupaten Gowa,” kata Nur Reski.

Menurut dia, selain meningkatnya pembelian masyarakat, petugas juga memperoleh informasi mengenai adanya pengurangan jumlah pasokan yang diterima sejumlah SPBU.

“Ada satu, dua, tiga SPBU yang meminta 16 KL, yang ada sebenarnya hanya 8 KL,” ujarnya.

Kondisi pasokan yang berkurang tersebut berlangsung bersamaan dengan meningkatnya pembelian masyarakat.