Kepolisian melihat situasi itu juga berpotensi memunculkan panic buying, yakni pembelian secara berlebihan karena kekhawatiran BBM akan semakin sulit diperoleh.

“Pantauan ada beberapa antrean. Di mana masyarakat saya lihat daya beli yang meningkat di beberapa SPBU. Adanya juga mungkin panic buying,” kata Nur Reski.

Namun, kepolisian tidak hanya melihat persoalan dari sisi antrean.

Distribusi BBM juga menjadi perhatian, terutama untuk memastikan tidak ada pihak yang memanfaatkan situasi dengan melakukan pelansiran maupun penimbunan.

Polisi menyatakan akan melakukan tindakan apabila menemukan kendaraan yang teridentifikasi melakukan pelansiran.

“Nah, kami lakukan penindakan bilamana ada kami temukan mobil-mobil yang melansir atau kendaraan yang sudah diidentifikasi,” tegasnya.

Langkah tersebut menjadi penting di tengah kondisi masyarakat yang mulai kesulitan mendapatkan BBM.

Sebab, ketika pasokan berkurang dan pembelian masyarakat meningkat, distribusi yang tidak tepat sasaran berpotensi membuat tekanan di lapangan semakin besar.

Polresta Gowa pun mengingatkan agar kondisi tersebut tidak dimanfaatkan oleh pihak tertentu untuk melakukan penimbunan ataupun pelansiran.

Pemantauan terhadap sejumlah SPBU akan terus dilakukan untuk melihat perkembangan distribusi BBM sekaligus memastikan masyarakat mendapatkan akses bahan bakar secara wajar.

Untuk sementara, fakta di lapangan menunjukkan adanya antrean panjang, stok Pertalite dan Pertamax yang habis di sejumlah titik, pengurangan pasokan pada beberapa SPBU, serta peningkatan pembelian masyarakat.

Apakah kondisi tersebut semata-mata disebabkan berkurangnya pasokan, meningkatnya permintaan, atau ada faktor lain dalam rantai distribusi, masih menjadi bagian yang terus dipantau aparat.

Yang jelas, bagi sebagian warga Gowa, persoalan BBM kini bukan lagi sekadar soal panjangnya antrean.

Mereka harus mencari dari satu SPBU ke SPBU lainnya hanya untuk memastikan kendaraan tetap bisa digunakan. (*)