Bone, Katasulsel.com β Kasus hilangnya uang kotak amal di sebuah masjid di Kabupaten Bone sempat membuat warga resah.
Pelakunya akhirnya tertangkap melalui rekaman CCTV.
Namun siapa sangka, sosok yang terekam itu bukan penjahat profesional, melainkan seorang santri berusia 16 tahun yang hidup terlantar setelah kabur dari pondok pesantren.
Remaja berinisial MK itu berasal dari Lampung Utara. Ia mengaku nekat meninggalkan pondok karena tak sanggup menahan kerinduan kepada kedua orang tuanya yang berada ribuan kilometer dari Bone.
Masalahnya, ia tak punya ongkos pulang.
Hari demi hari dilaluinya tanpa tempat tinggal yang pasti. Kadang tidur di emperan toko, kadang di teras masjid.
Saat rasa lapar datang dan tak ada uang di saku, MK mengaku mengambil uang dari kotak amal untuk membeli makanan.
Pengakuannya membuat banyak orang terdiam.
Ia mengaku hanya mengambil seperlunya. Bahkan jika masih ada sisa uang setelah membeli makan, uang itu dikembalikannya ke dalam kotak amal.
Kisah tersebut langsung menyentuh hati banyak warga Bone.
Alih-alih marah, tak sedikit yang justru merasa kasihan dan berharap remaja itu tidak diproses hukum.
Bagi sebagian warga, tindakan MK memang salah. Namun mereka menilai kasus ini lebih dekat dengan persoalan kemanusiaan daripada niat kriminal.
“Anaknya masih kecil, jauh dari orang tua, terlantar dan kelaparan. Perlu dibina, bukan dihancurkan masa depannya,” ungkap seorang warga yang mengetahui kasus tersebut.
Polisi pun mengambil langkah yang lebih humanis.
Pihak Polres Bone memastikan kasus itu tidak akan berlanjut ke meja hijau. Fokus utama saat ini adalah mengembalikan MK ke pondok pesantren dan memastikan ia mendapat pendampingan yang layak.
Kasus ini menjadi perbincangan hangat di Bone karena menghadirkan dua sisi sekaligus.
Di satu sisi ada pelanggaran yang tidak bisa dibenarkan.
Namun di sisi lain, ada cerita pilu seorang anak perantau yang tersesat, hidup tanpa biaya, dan berjuang melawan rasa lapar serta rindu kepada keluarganya.
Karena itulah, setelah kisah lengkapnya terungkap, banyak warga Bone memilih menaruh empati ketimbang amarah. (*)
