Malam ini Lionel Messi punya satu masalah.
Namanya bukan Rodri.
Bukan pula Mikel Oyarzabal.
Apalagi pelatih Spanyol.
Masalah Messi malam ini bernama Titin.
Ketua Ikatan Wartawan Online (IWO) Wajo itu ternyata sudah menjatuhkan pilihan.
Bukan kepada Argentina.
Bukan kepada sang legenda Lionel Messi.
Melainkan kepada Spanyol.
Lebih tepatnya kepada seorang bocah ajaib bernama Lamine Yamal.
“Malam ini Spanyol juara.”
Begitu kira-kira keyakinan Titin.
Tidak panjang.
Tidak bertele-tele.
Tidak perlu statistik berlembar-lembar.
Karena sebagai penggemar sepak bola, kadang pilihan hati memang tidak selalu lahir dari angka.
Kadang lahir dari kekaguman.
Dan kekaguman Titin saat ini bernama Yamal.
Saya bisa memahami itu.
Sulit untuk tidak terpikat kepada pemain yang bahkan belum genap dua dekade hidupnya tetapi sudah membuat dunia berdecak kagum.
Anak muda itu berlari seperti tidak mengenal takut.
Menggiring bola seperti sedang bermain di halaman rumahnya sendiri.
Dan yang paling berbahaya, ia bermain seolah tidak tahu bahwa lawan di depannya adalah pemain-pemain terbaik dunia.
Keberanian seperti itu tidak bisa diajarkan.
Ia bawaan lahir.
Mungkin itulah yang membuat Titin jatuh hati kepada permainan Spanyol.
Tim Matador yang datang ke final bukan dengan gegap gempita.
Mereka datang dengan kerja yang rapi.
Satu per satu lawan disingkirkan.
Austria dibereskan.
Portugal dipulangkan.
Belgia disudahi.
Prancis yang digadang-gadang banyak orang pun dibuat menyerah.
Tidak ada kekacauan.
Tidak ada drama berlebihan.
Spanyol berjalan menuju final seperti kereta cepat.
Tenang.
Tetapi mematikan.
Kini tinggal satu langkah lagi.
Satu kemenangan lagi.
Satu malam lagi.
Di seberang sana tentu ada Argentina.
Ada Messi.
Nama yang bagi banyak orang bahkan lebih besar daripada pertandingan itu sendiri.
Messi adalah kenangan.
Messi adalah sejarah.
Messi adalah alasan jutaan orang rela kehilangan waktu tidur.
Tetapi sepak bola selalu punya aturan yang kejam.
Ia tidak pernah memberi piala karena jasa masa lalu.
Ia hanya memberi hadiah kepada tim yang terbaik malam itu.
Mungkin itu yang ada di kepala Titin.
Bahwa malam ini bukan soal siapa yang paling legendaris.
Melainkan siapa yang paling siap.
Dan bagi Titin, jawabannya adalah Spanyol.
Jawabannya adalah Rodri yang mengendalikan lapangan tengah.
Jawabannya adalah Oyarzabal yang selalu menemukan ruang.
Jawabannya adalah Yamal yang membuat orang-orang bertanya:
“Anak ini sebenarnya lahir di planet mana?”
Besok pagi kita akan tahu.
Apakah keyakinan Titin terbukti.
Atau justru Messi sekali lagi membuat dunia mengangguk kagum.
Yang pasti, malam ini Wajo sudah punya wakil resmi pendukung Spanyol.
Namanya Titin.
Dan ia tampaknya tidak berniat pindah kubu sampai peluit akhir berbunyi.
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Wajo Hari Ini .
