Mereka tidak hanya ingin mengetahui produk yang dijual.
Mereka juga ingin tahu dari mana produk itu berasal.
Bagaimana proses produksinya.
Bagaimana kualitasnya dijaga.
Dan apakah pasokannya bisa berlangsung secara berkelanjutan.
Artinya, yang dijual bukan sekadar barang.
Tetapi juga cerita di belakang barang tersebut.
Makassar sedang menawarkan lebih dari sekadar komoditas.
Makassar sedang menawarkan identitas.
Salah satu sektor yang cukup banyak menarik perhatian adalah seafood.
Bukan hal yang mengherankan.
Sulawesi Selatan memang selama ini dikenal sebagai salah satu daerah penghasil produk perikanan terbesar di Indonesia Timur.
Beberapa pelaku usaha bahkan langsung melakukan komunikasi awal dengan calon mitra bisnis dari luar negeri.
Belum ada kontrak besar yang ditandatangani.
Belum ada angka fantastis yang diumumkan.
Namun dalam dunia investasi, perkenalan sering kali menjadi tahap paling penting.
Karena tidak ada transaksi tanpa kepercayaan.
Dan kepercayaan selalu dimulai dari pertemuan.
Mario Said mengungkapkan, sejumlah negara telah menyatakan minat untuk melanjutkan komunikasi lebih jauh.
“Beberapa negara sudah mengonfirmasi minatnya untuk melakukan penjajakan awal. Ini menjadi langkah positif untuk membuka peluang kerja sama yang lebih konkret di masa mendatang,” ujarnya.
Bagi warga Makassar, mungkin forum ini terlihat seperti agenda biasa di hotel berbintang.
Namun sesungguhnya ada pertanyaan besar yang sedang dijawab di dalamnya.
Apakah produk-produk lokal Sulawesi Selatan mampu bersaing di pasar dunia?
Jawaban awalnya tampaknya mulai terlihat.
Sebab ketika negara lain datang mencari kopi, seafood, rempah-rempah, dan produk pangan dari Makassar, itu berarti ada sesuatu yang dianggap bernilai.
Sesuatu yang selama ini tumbuh di sekitar kita.
Dan mungkin tanpa disadari, sedang dilirik dunia. (din)
