Perubahan metode itu menjadi tantangan tersendiri bagi aparat penegak hukum maupun lingkungan pendidikan. Sebab, vape telah menjadi barang yang cukup umum ditemui di kalangan anak muda sehingga sulit dibedakan antara penggunaan biasa dan yang telah dicampur zat terlarang.
Selain faktor penyamaran yang efektif, harga jual juga disebut menjadi alasan mengapa produk tersebut cepat menjangkau kalangan pelajar.
BNNP Sulsel menemukan bahwa vape sintetis dapat diperoleh dengan harga yang relatif murah. Dalam beberapa kasus, produk itu dijual mulai dari puluhan ribu rupiah hingga ratusan ribu rupiah tergantung kandungan dan jumlah cairannya.
Harga yang terjangkau membuat akses terhadap barang tersebut menjadi lebih mudah dibandingkan narkotika konvensional yang umumnya memiliki harga lebih mahal.
“Karena harganya relatif terjangkau, siswa sekolah pun bisa membelinya,” ungkap Ardiansyah.
Kondisi ini memunculkan kekhawatiran baru mengenai peredaran narkotika yang menyasar generasi muda melalui kemasan yang tampak biasa dan tidak mencolok.
BNNP Sulsel menilai upaya pencegahan tidak bisa hanya dibebankan kepada aparat. Peran keluarga, sekolah, hingga lingkungan sekitar menjadi faktor penting untuk mendeteksi gejala awal penyalahgunaan narkoba.
Pengawasan terhadap pergaulan anak, kebiasaan penggunaan vape, serta edukasi mengenai bahaya narkotika sintetis dinilai perlu diperkuat.
Ardiansyah menegaskan pihaknya tidak hanya fokus pada rehabilitasi pengguna, tetapi juga terus memburu jaringan yang memproduksi maupun mengedarkan cairan sintetis tersebut.
Menurutnya, para pelaku tidak hanya mencari keuntungan ekonomi, tetapi juga berkontribusi merusak masa depan generasi muda.
Karena itu, BNNP Sulsel terus memperkuat koordinasi dengan kepolisian di berbagai daerah untuk memutus mata rantai peredaran vape sintetis.
“Para pelaku tetap akan kami kejar. Mereka bukan hanya mencari keuntungan, tetapi juga merusak generasi muda. Kami terus berkoordinasi dan berkolaborasi dengan polres maupun Polda untuk melakukan penindakan,” tegasnya.
Meningkatnya temuan pengguna vape sintetis di Sulawesi Selatan menjadi peringatan bahwa bentuk peredaran narkotika terus berkembang mengikuti tren yang digemari anak muda. Di balik kepulan uap yang terlihat biasa, tersimpan ancaman yang dapat membawa remaja pada ketergantungan, masalah kesehatan, hingga persoalan hukum.
Bagi orang tua dan sekolah, kasus ini menjadi pengingat bahwa pengawasan terhadap penggunaan vape tidak lagi semata soal kebiasaan merokok, melainkan juga terkait kemungkinan penyalahgunaan narkotika yang bersembunyi di dalamnya. (*)
